Pembelokan informasi. Begitulah pendapat saya tentang Ahmadiyah. Informasi yang dibawa oleh nabi Muhammad melalui AlQuran ternyata seiring waktu banyak mengalami pembiasan. Kok bisa?
Ya, manusia itu kan makhluk yang cenderung modifikatif. Sesuatu yang sudah MATANG dan BAIK masih saja diutak-atik. Sepeda motor yang sudah didesain sedemikian rupa, dengan pertimbangan-pertimbangan ergonomis, aspek fungsi, dsb; masih saja dimodifikasi. Stang kemudi ditinggikan, shock diceperin, biarpun ga nyaman yang penting modis, lebih gagah. Hasilnya? Pas motor itu direm depan secara mendadak, njungkel ga karuan dan kepala si sopir yang pengen modis itu duluan menggebrak aspal.
Dan mengenai gejala itu, nabi Muhammad sudah memprediksikannya.
Saya sendiri bukanlah orang yang mengerti tentang Islam. Sekalipun di KTP saya tercantum Islam sebagai agama saya. Bahkan kalau mau fair, saya ini termasuk kafir. Shalat saja ga bisa lima waktu, padahal lima waktu itu hukumnya wajib. Udah gitu saya kalo nyetir motor di jalan raya ga pernah berhenti kalau ada pejalan kaki yang melintas di Zebra Cross. Padahal orang Islam itu wajib menjaga keselamatan orang lain. Kalau ugal-ugalan maka biarpun orang tersebut ngaku Islam, pergi haji 50 kali, pakai peci menenteng sajadah ke mana-mana; ya tetap saja bukan orang Islam. Mungkin Islam secara kulit, bukan esensi.
Kembali ke PEMBELOKAN INFORMASI. Esensinya adalah bahwa informasi itu mengalami modifikasi: bisa ditambahi ataupun dikurangi. Bisa juga tidak ditambahi ataupun dikurangi, tapi dimaknai secara lain atau tidak sesuai dengan makna aslinya. Yang demikian juga termasuk pembelokan.
Ahmadiyah menyatakan bahwa nabi terakhir bukan Muhammad. Pembelokan, bukan? Karena di Alquran tertulis bahwa Muhammad itu nabi terakhir. So setelah Muhammad, tak ada lagi itu namanya nabi. Ga ada orang yang punya MUKJIZAT. Ga ada orang yang menerima wahyu dari Allah.
Nah. Sekarang marilah kita fair.
Di Indonesia ini ada tokoh-tokoh yang dipercaya sebagai WALI. Mereka adalah para SUNAN. Mulai dari Sunan KAlijaga sampai Sunan Ampel. Orang-orang percaya bahwa para wali itu memiliki kemampuan yang tidak lazim dimiliki orang biasa. Ada sunan yang kalau mau pergi ke suatu tempat maka tempat itu yang mendekat kepadanya. Ada yang namanya Sunan Ampel, yang Makamnya hingga kini banyak dikunjungi orang, banyak yang minta BAROKAH. Orang-orang berdoa di makamnya Sunan Ampel. Minum air dari sumur di situ, dan menyebutnya sebagai air barokah semacam air Zam Zam.
Apa sih artinya WALI itu? Wali itu kan PERWAKILAN. Semacam utusan, bukan? Kenapa sih kok mereka ga dijuluki sebagai USTADZ saja? atau KYAI? kenapa musti wali? dan kenapa ORANG-ORANG PERCAYA KALAU WALI-WALI ITU PUNYA KEMAMPUAN DILUAR NALAR MANUSIA? bukankah itu mukjizat? tapi orang-orang kita selalu pintar dalam mencari- cari kata yang tepat. Maka mereka bilang itu bukan mukjizat, melainkan KAROMAH.
Itu baru SUNAN. Belum lagi mereka yang percaya bahwa ada Kyai yang bisa terbang. Rohnya bisa melayang sampai MEKKAH, hingga sang Kyai sakti tersebut bisa bertemu tetangganya yang pergi naik haji, bahkan kyai tersebut katanya JADI IMAM di Masjidil Haram. Pernah denger gosip yang kayak gituan, ga?
Padahal ironisnya. Nabi Muhammad itu pergi haji naik Onta melintasi padang pasir. Nah, sang Kyai ini lebih hebat berarti. HEBAT!! BISA TERBANG!!
Jadi sebetulnya secara esensi, orang-orang kita banyak yang MENGKULTUS manusia sesudah nabi Muhammad sebagai orang terpilih yang punya kemampuan setara dengan nabi. Banyak sekali yang seperti itu. Bahkan ada yang bilang kalau GUS DUR itu sakti. Dalam posisi tidur pas rapat bisa mengikuti jalannya diskusi. Padahal Gus Dur pas di KICK ANDY cuma ketawa menanggapi hal itu, katanya, "hahaha, ga ada itu...saya memang tidur, dan pas bangun paling-paling diskusinya baru sampai situ-situ saja" Itulah sindiran Gus Dur pada budaya rapat masyarakat Indonesia yang bertele-tele kalo ngomong.
Pas MAulud nabi. di berbagai daerah, macam-macam pula ritualnya. Ada yang nyuci keris di sungai, ada yang bertapa, ada yang ngangon SAPI, dsb. Apakah hal itu diajarkan di AlQuran dan Hadist? Adakah Muhammad atau sahabatnya mencuci pedangnya tuk memperingati maulud?
Disini kita bicara tentang ajaran dan tata cara. Ini bukan soal kemajuan tekhnologi. Semisal kalau anda protes bahwa kalau di Jaman Muhammad sudah ada Honda tIger, pasti beliau akan naik motor pergi haji. Bukan itu maksud saya. Nyuci keris itu ga ada kaitannya dengan kemajuan teknologi, melainkan lebih ke AKULTURASI BUDAYA, antara Islam dengan budaya setempat. Di Indonesia yang akrab dengan budaya SESAJEN, budaya ISlam terakulturasi dengan Hindu.
Yang demikian juga pembelokan.
Bahkan budaya MUDIK pas lebaran itu kan bukan ajarannya Muhammad, bukan? Islam mengajarkan manusia untuk MENJAGA DIRI DARI DOSA. Maksudnya gini: JANGAN BIKIN KESALAHAN, JANGAN BIKIN SAKIT HATI ORANG LAIN. Kalau KHILAF, MINTAlah MAAF....dan itu ga ada hubungannya sama IDUL FITRI!!
Ga nunggu lebaran baru minta maaf.
Saya pernah sengaja shalat persis di belakang Imam Masjidil Haram, hanya untuk memperhatikan gerakan shalatnya. Agak beda dikit dengan yang diajarkan guru agama SD saya yang lulusan IKIP itu. Di sana sebelum adzan Maghrib berkumandang ga ada itu SPEAKER yang mengumandangkan orang ngaji...Kalo di sini kan, menjelang Maghrib masjid-masjid memutar rekaman orang ngaji yang dikeraskan dengan Speaker besar-besar.
Di Arab, pusat informasi Islam, bahkan lebih sederhana...Adzan, kemudian agak lama Qomah lantas Shalat. Selesai...Ga ada speaker yang mengumandangkan orang ngaji.
Apa ga boleh mengumandangkan orang ngaji pake speaker? Ya boleh, asal minta ijin sama tetangga, iya kalo muslim semua, lha kalo ada yang non muslim, kan kita musti toleransi. Mengumandangkan ayat2 AlQuran lewat speaker itu kan ga wajib hukumnya. Yang wajib itu mengamalkan isi AlQuran itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
Nah...
Kalau anda menganggap orang lain kafir, mestinya anda sadar bahwa Allah dah pernah bilang: KATAKAN PADA ORANG- ORANG KAFIR ITU, BAGIMU AGAMAMU, BAGIKU AGAMAKU...
Intinya apa sih? Kita disuruh CUEK dan ga ngurusin KEYAKINANNYA ORANG...Itu kan sudah jelas. Kalau anda mau protes maka anda sendiri malah ga yakin sama surat AL Kafiruun itu.
LAKUMDINUKUM WALLIYADDIN.....
BEres.